Naegleria fowleri


Naegleria fowleri adalah spesies patogen pada manusia. Spesies ini dulunya disebut Naegleria gruberi. Hospes dan nama penyakit Naegleria fowleri hidup di alam di air tawar yang menggenang (kolam danau), di tanah dan tinja. Spesies ini dapat menjadi patogen pada manusia dan menimbulkan penyakit yang disebut primary amebic meningoencephalitis. Distribusi geografik Kasus-kasus dengan primary amebic meningoencephalitis telah dilaporkan dari Amerika Serikat, Belgia, Cekoslowakia, Australia, Selandia Baru, India, Nigeria, Inggris, Irlandia, Venezuela, Panama, dan Papua Nugini.

Morfologi dan daur hidup

Seperti ameba lainnya, ameba dari spesies ini terdiri atas ektoplasma dan endoplasma. Di dalam endoplasma terdapat 1 inti vesikular dengan kariosom yang besar dan dinding inti yang penuh dengan butir-butir kromatin; selain inti juga ditemukan vakuola kontraktil dan vakuola makanan. Pada genus Naegleria ditemukan tiga stadium yaitu stadium ameboid, flagellata, dan kista.

(1). Stadium ameboid :

Mempunyai bentuk tidak teratur, lonjong atau membulat dengan ukuran rata-rata 29 mikron. Pseudopodium tunggal yang dikeluarkan meluas ke satu arah.

(2). Stadium flagellata :

Mempunyai bentuk lonjong seperti buah per, mempunyai 1 inti vesikular, 1 vakuol kobtraktil ynag terletak pada bagian posterior dan dua flagel yang sama panjang. Fase ini hanya ditemukan beberapa jam saja, kemudian berubah menjadi fase ameboid lagi.

(3). Stadium kista :

Bentuk bulat atau lonjong, mempunyai 1 inti. Berukuran 10 – 14 mikron. Pada dindingnya terdapat beberapa lubang yang digunakan untuk eksistasi. Daur hidup ameba ini belum diketahui dengan jelas. Cara infeksi pada manusia diperkirakan melauli hidung pada waktu penderita berenang atau ketika mengambil air wudhu.

Patologi dan gejala klinis

Ameba yang masuk melalui hidung menembus ke jaringan otak dan memperbanyak diri dalam jaringan otak. Gejala yang timbul adalah sakit kepala yang hebat di bagian frontal, demam, sakit tenggorokan, hidung tersumbat, kaku kuduk dan berbagai kelainan sistem susunan saraf pusat. Cairan serebrospinal menjadi purulen dan dapat mengandung banyak sel darah merah,ameba yang bergerak. Biasanya penderita meninggal 4 sampai 5 hari sesudah gejala timbul.

Diagnosis

Diagnosis dibuat dengan menemukan ameba dalam cairan serebrospinal, dalam eksudat purulen dan pada jaringan nekrotik pada bedah mayat. Pada autopsi dapat ditemukan ameba dalam jumlah besar di lesi jaringan otak. Spesies Naegleria dalam jaringan hanya ditemukan dalam bentuk trofozoit, tanpa adanya kista.

Pengobatan

Obat yang memberi harapan adalah Amfoterisin B. Metronidazol, klorokuin, emetin dan berbagai antibiotika tidak efektif untuk pengobatan meningitis oleh karena Naegleria. Hanya ada 2 penderita yang pengobatannya berhasil, yaitu seorang dengan amfoterisin B 1 mg/kg berat badan/hari IV dan 0,1 sampai 1,0 mg intratekal 2 kali sehari; seorang lagi diberi amfoterisin B dengan dosis tinggi ditambah mikonazol dan rifampisin. Prognosis Penderita primary amebic meningoencephalitis biasanya meninggal. Epidemiologi Karena ameba ini hidup di air tawar, tanah dan tinja, maka penyebaran mungkin di seluruh dunia. Dengan ditemukannya penderita di beberapa tempat pada musim panas, timbulnya penyakit mungkin berhubungan dengan musim, karena ameba ini bersifat termofilik.

2 thoughts on “Naegleria fowleri

  1. emg bahaya..jadi harus hati-hati dan selalu terapkan PHBS (Perilaku Bersih dan Sehat)..
    arigatou dah mau mampir di blog dito…^^ dozo yoroshiku ne

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s